‎SEMARANG, temanggungnews.com – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT)Jawa Tengah menggelar Focus Group Discussion (FGD) Hasil Penelitian Mandiri bertajuk Survei Pendidikan Damai di Jawa Tengah yang dirangkai dengan acara buka bersama pada Jumat (6/3/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Delman Resto dan dihadiri seluruh pengurus FKPT Jateng.

‎Ketua FKPT Jateng, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menjelaskan bahwa FGD ini merupakan forum untuk mempresentasikan sekaligus mendiskusikan hasil penelitian mandiri FKPT Jateng yang telah dilakukan pada akhir tahun 2025. Penelitian tersebut mengangkat tema Survei Pendidikan Damai di Jawa Tengah sebagai bagian dari upaya memperkuat strategi pencegahan radikalisme dan terorisme melalui pendekatan pendidikan.

‎Menurutnya, penelitian tersebut penting sebagai dasar penyusunan program kerja FKPT Jateng yang lebih kontekstual dan berbasis kebutuhan masyarakat.

‎“Penelitian mandiri ini menjadi pijakan bagi FKPT Jateng untuk membaca kondisi pendidikan damai di Jawa Tengah. Hasilnya akan menjadi dasar perumusan program yang lebih efektif dalam upaya pencegahan radikalisme,” ujar Ibda.

‎FGD tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Prof Dr Syamsul Ma'arif, Ketua FKPT Jateng periode 2022–2025, dan KH. Hudallah Ridwan, Lc., Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah.

‎Dalam paparannya, Prof Syamsul Ma’arif menekankan pentingnya membangun tipologi gerakan FKPT berbasis kearifan lokal (local wisdom). Menurutnya, pendekatan lokal menjadi strategi penting agar program pencegahan radikalisme dapat diterima dan berjalan efektif di tengah masyarakat.

‎“FKPT Jateng perlu mengembangkan tipologi gerakan berbasis local wisdom. Program yang kita bangun harus benar-benar lahir dari kebutuhan lokal, dari kita untuk kita, dan ditujukan untuk menjawab problem lokal,” jelasnya.

‎Sementara itu, KH. Hudallah Ridwan menegaskan bahwa FKPT Jateng perlu melakukan redefinisi peran dan arah gerakan organisasi agar semakin relevan dengan dinamika sosial masyarakat.

‎Ia menilai bahwa FKPT harus memanfaatkan konsep serta indikator yang jelas dalam meneguhkan pola gerakan organisasi, sekaligus mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dan keilmuan.

‎“FKPT perlu meredefinisi gerakan dan memanfaatkan konsep serta indikator yang kuat untuk meneguhkan pola gerakan. Selain itu, penting juga mengintegrasikan ayat qauliyah (Al-Qur’an) dengan ayat kauniyah agar pendekatan keagamaan dan sosial berjalan seimbang,” ungkapnya.

‎Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari para pengurus FKPT Jateng yang hadir. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat arah gerakan FKPT Jateng dalam membangun pendidikan damai serta memperkuat ketahanan masyarakat terhadap paham radikalisme dan terorisme.

‎FGD kemudian ditutup dengan agenda buka bersama sebagai momentum mempererat silaturahmi antar pengurus FKPT Jateng di bulan Ramadan. (*)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama