Siapa sangka, tepung terigu yang biasa digunakan untuk membuat makanan dapat menjadi sarana belajar yang menyenangkan bagi anak usia dini. Dengan tambahan sedikit air, minyak, garam, dan pewarna makanan, tepung terigu bisa diolah menjadi playdough, adonan lunak yang dapat diremas, digulung, ditekan, dan dibentuk menjadi berbagai kreasi menarik. Di balik jari-jari mungil yang sibuk membentuk adonan, terdapat kesempatan untuk melatih keterampilan, mengembangkan imajinasi, dan belajar mengenal lingkungan melalui pengalaman langsung.


Saat anak meremas, mencubit, dan menggulung adonan, mereka sedang melatih motorik halus serta koordinasi mata dan tangan. Keterampilan ini penting untuk mendukung aktivitas sehari-hari, seperti menggambar, memegang pensil, dan menggunakan alat makan.


Menariknya, anak tidak merasa sedang berlatih. Mereka justru menikmati proses bermain, mencoba berbagai bentuk, dan menemukan hal-hal baru sesuai imajinasinya. Segumpal adonan dapat berubah menjadi bunga, kupu-kupu, mobil, atau makanan kesukaan. Setiap anak bisa menghasilkan karya yang berbeda. Tidak harus sempurna, sebab yang terpenting adalah kesempatan untuk berkreasi dan mengekspresikan gagasan.


Playdough juga dapat menjadi media untuk merangsang perkembangan kognitif anak, seperti pengenalan warna, bentuk, ukuran, dan angka. Guru dapat mengajak anak membuat tiga bola adonan, membandingkan bentuk besar dan kecil, atau mengelompokkan hasil kreasi berdasarkan warna.


Ketika anak menceritakan apa yang dibuatnya, kemampuan bahasa dan komunikasinya pun mendapat kesempatan untuk berkembang. Sementara itu, saat bermain bersama teman, anak belajar berbagi bahan, menunggu giliran, dan menghargai karya orang lain

.

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Guru sebagai vasilitator perlu memberikan kebebasan untuk anak berkreasi, bukan selalu diarahkan agar menghasilkan bentuk yang sama. Kalimat-kalimat pemantik seperti “Kamu sedang membuat apa?” atau “Bagaimana caranya agar bentuk ini berdiri?” dapat mendorong anak berpikir, mencoba, dan menemukan solusi.


Dengan pendampingan yang tepat, kegiatan sederhana ini dapat menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna.


Playdough dari tepung terigu dapat dibuat sendiri dengan bahan yang relatif murah dan mudah ditemukan. Siapkan dua cangkir tepung terigu, setengah cangkir garam, sekitar tiga perempat cangkir air, satu sendok makan minyak goreng, 3 sendok sabun cuci piring dan pewarna makanan secukupnya.


Campurkan tepung dan garam, tambahkan minyak, sabun cuci piring serta air sedikit demi sedikit, lalu uleni hingga adonan lembut dan mudah dibentuk. Bagi menjadi beberapa bagian dan tambahkan pewarna makanan sesuai keinginan. Adonan pun siap digunakan.


Guru dapat menyesuaikan permainan dengan tema pembelajaran. Anak bisa membuat binatang, buah-buahan, bunga, atau benda yang dijumpai sehari-hari. Orang tua juga dapat melakukan kegiatan serupa di rumah sebagai alternatif aktivitas kreatif bersama anak.


Meski menggunakan bahan dapur, playdough tetap bukan untuk dimakan. Adonan mengandung bahan-bahan yang dapat membahayakan jika tertelan dalam jumlah banyak. Karena itu, anak harus selalu berada dalam pengawasan orang dewasa. Gunakan bahan yang sesuai, jaga kebersihan, dan biasakan anak mencuci tangan sebelum serta sesudah bermain.


Bermain playdough mengingatkan kita bahwa kegiatan belajar anak tidak selalu membutuhkan alat mahal atau metode yang rumit. Bahan sederhana pun dapat membuka ruang bagi anak untuk berimajinasi, melatih keterampilan, mengenal konsep dasar, dan belajar bersosialisasi. Poin utamanya, bukan seberapa bagus bentuk adonan yang dihasilkan, melainkan proses yang dilalui anak saat mencoba, mengalami kesulitan, memperbaiki bentuk, dan akhirnya merasa bangga terhadap hasil karyanya.


Dari segenggam tepung terigu, anak memperoleh kesempatan untuk belajar dengan cara yang menyenangkan. Sebab, pada usia dini, bermain bukan sekadar bersenang-senang, melainkan bagian penting dari perjalanan anak untuk tumbuh, belajar, dan mengenali potensi dirinya.


ditulis oleh Ratnawatiningsih, Pendidik Pos PAUD Tunas Bangsa

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama