TEMANGGUNG, temanggungnews.com – Era VUCA yang ditandai perubahan cepat (volatility), ketidakpastian (uncertainty), kompleksitas (complexity), dan ketaksaan informasi (ambiguity) menuntut pesantren tidak hanya mencetak santri yang menguasai ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter yang kokoh, berpikiran terbuka, dan bijaksana dalam menghadapi persoalan kehidupan.
Perspektif pendidikan akhlak Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali menawarkan landasan penting untuk menjawab tantangan tersebut. Di tengah derasnya arus informasi, perubahan teknologi, dan pergeseran nilai sosial, kekuatan santri tidak cukup diukur dari keluasan pengetahuan, tetapi juga dari kemampuan menginternalisasi nilai-nilai kebaikan sehingga menjadi karakter yang melekat dalam dirinya.
Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Studium Generale Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung bertajuk “Internalisasi Karakter Santri di Era VUCA: Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity” yang diselenggarakan di Aula Babussalam, Temanggung, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Dr. KH. Abdul Ghofur Maemoen, M.A., Rais Syuriah PBNU sekaligus Ketua STAI Al-Anwar Sarang, Rembang, sebagai narasumber. Rektor INISNU Temanggung Dr. Hamidulloh Ibda, S.Pd.I., M.Pd., menjadi pembicara kunci (keynote speaker). Acara dimoderatori Direktur Program Pascasarjana INISNU Temanggung Dr. H. Muhammad Syakur, S.Sy., M.H.
Dalam materi yang disampaikan, KH. Abdul Ghofur Maemoen mengangkat pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai akhlak sebagai landasan memahami pembentukan karakter. Dalam Ihya’ Ulumiddin, Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai kondisi jiwa yang tertanam kuat, sehingga perbuatan muncul dengan mudah tanpa harus melalui pertimbangan panjang setiap kali seseorang bertindak.
Konsep tersebut menempatkan akhlak lebih dalam daripada sekadar perilaku yang terlihat. Seseorang belum tentu memiliki karakter dermawan hanya karena sekali memberikan sedekah. Demikian pula, seseorang belum dapat disebut jujur apabila kejujurannya hanya muncul ketika diawasi atau ketika berkata benar tidak mendatangkan risiko.
Akhlak yang sesungguhnya terbentuk ketika nilai kebaikan telah mengakar dalam jiwa dan secara konsisten memengaruhi keputusan, tindakan, serta hubungan seseorang dengan orang lain. Dalam perspektif ini, pendidikan pesantren tidak boleh berhenti pada penyampaian pengetahuan mengenai halal dan haram, baik dan buruk, atau benar dan salah. Pendidikan harus mengantarkan santri pada kemampuan menghayati, menguasai, dan membiasakan nilai-nilai tersebut hingga menjadi bagian dari kepribadiannya.
Pembentukan karakter, sebagaimana dijelaskan dalam materi tersebut, berlangsung melalui proses mujahadah atau perjuangan melawan kecenderungan buruk, latihan dan pengulangan perbuatan baik, pembiasaan, hingga terbentuknya karakter yang mengakar. Artinya, karakter santri tidak terbentuk secara instan melalui ceramah, nasihat, atau hafalan semata. Karakter memerlukan keteladanan, lingkungan pendidikan yang mendukung, kedisiplinan, pembiasaan, serta kesediaan untuk terus memperbaiki diri.
Landasan ini relevan bagi pesantren dalam menghadapi tantangan zaman. Perubahan boleh berlangsung cepat, tetapi prinsip moral tidak semestinya berubah mengikuti setiap tren. Teknologi boleh berkembang, tetapi penggunaannya tetap harus diarahkan oleh tanggung jawab, kejujuran, dan kemaslahatan.
Materi KH. Abdul Ghofur Maemoen juga menguraikan empat keutamaan akhlak yang dapat menjadi pijakan pembentukan karakter santri, yaitu hikmah, iffah, syaja’ah, dan ‘adalah. Pertama, hikmah atau kebijaksanaan. Keutamaan ini berkaitan dengan kemampuan akal untuk memahami persoalan dan membedakan kebenaran dari kesalahan. Dalam kehidupan digital, hikmah diwujudkan melalui kebiasaan memeriksa sumber informasi, memahami konteks, mempertimbangkan akibat, dan tidak terburu-buru menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
Kedua, ‘iffah atau pengendalian diri. Santri perlu mampu mengendalikan keinginan, hawa nafsu, dan dorongan sesaat. Dalam konteks penggunaan media sosial, nilai ini tercermin ketika santri tidak mudah terpancing provokasi, tidak mengejar popularitas dengan mengorbankan etika, serta tidak menggunakan teknologi untuk merugikan orang lain.
Ketiga, syaja’ah atau keberanian. Keberanian bukan tindakan gegabah, melainkan kemampuan mengambil sikap secara tepat setelah mempertimbangkan persoalan. Santri perlu berani menyampaikan kebenaran, mengakui kesalahan, melawan ketidakadilan, dan mempertahankan prinsip tanpa berubah menjadi pribadi yang kasar atau merendahkan orang lain.
Keempat, ‘adalah atau keadilan. Keutamaan ini menunjukkan keseimbangan dalam mengelola berbagai kekuatan jiwa serta kemampuan menempatkan sesuatu secara proporsional. Dalam kehidupan sosial, keadilan menuntut santri menghormati hak orang lain, tidak mudah menghakimi, dan mempertimbangkan berbagai sisi sebelum mengambil keputusan.
Keempat nilai tersebut saling melengkapi. Kebijaksanaan membantu santri memahami persoalan, pengendalian diri menjaga agar keputusan tidak dikuasai hawa nafsu, keberanian mendorong tindakan yang benar, sedangkan keadilan memastikan tindakan itu tetap proporsional.
Menghadapi era VUCA tidak cukup hanya dengan meningkatkan kecerdasan intelektual. Santri juga membutuhkan kematangan moral agar mampu menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.
Rektor INISNU Temanggung Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., dalam sesi keynote speaker menegaskan bahwa internalisasi merupakan proses penghayatan, pendalaman, penguasaan, atau penanaman suatu nilai, norma, ajaran, maupun prinsip ke dalam kepribadian dan jiwa seseorang sehingga tercermin secara nyata dalam sikap serta perilaku sehari-hari.
Menurutnya, tantangan pendidikan karakter bukan sekadar bagaimana santri mengetahui nilai-nilai kebaikan, melainkan bagaimana nilai tersebut benar-benar menjadi dasar dalam berpikir, bersikap, mengambil keputusan, dan bertindak.
Untuk menghadapi VUCA, Ibda menawarkan pendekatan VUCA tandingan, yakni Vision, Understanding, Clarity, dan Awareness. Pendekatan ini menekankan pentingnya orientasi masa depan, pemahaman terhadap bidang yang ditekuni, kejernihan berpikir, dan kesadaran terhadap perubahan. Pertama, Vision (visi). Santri dan mahasiswa harus mempunyai gambaran yang jelas tentang masa depan yang ingin diwujudkan. Mereka perlu bertanya kepada diri sendiri: akan menjadi pribadi seperti apa, keahlian apa yang hendak dikembangkan, dan kontribusi apa yang akan diberikan kepada masyarakat? Visi penting agar santri tidak sekadar mengikuti arus atau menggantungkan masa depannya kepada orang lain. Kiai, guru, orang tua, dan lingkungan pendidikan dapat memberikan bimbingan, tetapi santri harus mengambil tanggung jawab atas proses pertumbuhan dirinya sendiri. Visi juga perlu dibangun di atas fondasi nilai keislaman. Kemajuan karier dan penguasaan ilmu harus berjalan seiring dengan tanggung jawab moral, kemanfaatan sosial, serta komitmen terhadap prinsip agama.
Kedua, Understanding (pemahaman). Santri harus memahami profesi, kompetensi, dan bidang kehidupan yang akan digeluti. Di tengah perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi, semangat belajar tidak cukup hanya diarahkan untuk memperoleh ijazah atau menyelesaikan pendidikan formal. Santri perlu mengembangkan kemampuan memahami persoalan, menguasai ilmu sesuai bidangnya, mempelajari teknologi, dan mengenali kebutuhan masyarakat. Pemahaman yang mendalam akan membantu mereka beradaptasi tanpa kehilangan identitas dan pijakan nilai.
Ketiga, Clarity (kejernihan). Ketika menghadapi persoalan yang kompleks, santri harus mampu menjernihkan pikiran. Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan reaksi spontan, emosi, atau keputusan yang terburu-buru. Kejernihan berpikir menuntut kemampuan memilah fakta dan opini, mengenali akar masalah, mempertimbangkan risiko, serta melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Sikap ini menjadi sangat penting ketika santri menghadapi perbedaan pendapat, konflik sosial, maupun informasi yang saling bertentangan.
Keempat, Awareness (kesadaran dan kewaspadaan). Santri harus memiliki kepekaan terhadap perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan dinamika masyarakat. Kewaspadaan bukan berarti takut terhadap perubahan, melainkan memahami perubahan secara kritis agar dapat mengambil langkah yang tepat. Kesadaran ini juga mencakup kemampuan mengenali risiko penyalahgunaan teknologi, manipulasi informasi, perundungan digital, dan berbagai persoalan yang dapat memengaruhi karakter generasi muda.
Melalui empat pendekatan tersebut, Hamidulloh menekankan bahwa santri perlu membangun kemandirian, kompetensi, kejernihan berpikir, dan kepekaan terhadap perubahan. Keempatnya menjadi bekal agar santri tidak sekadar menjadi penonton perubahan, tetapi mampu mengambil peran dalam mengarahkan perubahan menuju kemaslahatan.
Dalam materi Studium Generale tersebut, VUCA dijelaskan sebagai empat tantangan yang saling berkaitan, tetapi memiliki karakteristik berbeda. Volatility adalah perubahan yang berlangsung cepat. Perubahan teknologi, pola komunikasi, budaya populer, dan kebutuhan dunia kerja berlangsung semakin dinamis. Santri dituntut mampu beradaptasi tanpa kehilangan prinsip keagamaan dan nilai moral.
Jalan keluarnya adalah istiqamah, kesabaran, dan keteguhan prinsip. Santri harus terbuka terhadap pembaruan, tetapi tidak menjadikan setiap tren sebagai standar kebenaran. Dalam kerangka Al-Ghazali, karakter yang telah mengakar membantu seseorang tetap menjaga perilaku baik sekalipun situasi di sekelilingnya berubah.
Uncertainty merupakan ketidakpastian masa depan. Santri tidak selalu dapat mengetahui secara pasti bagaimana perkembangan pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial pada masa mendatang. Ketidakpastian tersebut dapat memunculkan kecemasan dan kebingungan ketika tidak dihadapi dengan persiapan yang memadai. Jalan keluarnya adalah kesabaran, tawakal, optimisme, dan tanggung jawab. Tawakal bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan sikap bersandar kepada Allah setelah melakukan ikhtiar secara sungguh-sungguh. Santri perlu terus belajar, menyusun rencana, mengembangkan kompetensi, dan mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Complexity merupakan persoalan yang saling berkaitan. Masalah kehidupan tidak selalu berdiri sendiri. Persoalan agama dapat berhubungan dengan ekonomi, politik, teknologi, budaya, dan kondisi sosial masyarakat. Karena itu, penyelesaian masalah tidak cukup dilakukan dengan melihat satu sisi saja. Jalan keluarnya adalah memperluas wawasan, mengembangkan pemikiran kritis, bekerja sama, serta mempertimbangkan kemaslahatan dan kemudaratan. Nilai hikmah dan ‘adalah dalam pemikiran Al-Ghazali relevan untuk membantu santri menimbang berbagai kepentingan secara proporsional.
Ambiguity adalah ketaksaan atau ketidakjelasan. Informasi dan fenomena sosial tidak selalu mudah dipahami. Satu peristiwa dapat menghadirkan banyak penafsiran, sedangkan informasi yang beredar di media sosial belum tentu lengkap atau benar. Jalan keluarnya adalah tabayyun, literasi digital, kejujuran ilmiah, dan kehati-hatian dalam mengambil kesimpulan. Santri perlu memeriksa sumber, memahami konteks, membandingkan informasi, dan tidak tergesa-gesa menjatuhkan penilaian.
Dalam perspektif akhlak Al-Ghazali, kemampuan tersebut berkaitan dengan hikmah, kejujuran, amanah intelektual, dan pengendalian diri. Santri yang memiliki karakter kuat tidak mudah menjadikan prasangka sebagai kebenaran atau menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan.
Sementara itu, Rois Syuriah PCNU Temanggung KH. Muhammad Furqon menegaskan bahwa Hari Santri Nasional harus menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan pesantren sekaligus membentengi masyarakat dari framing negatif terhadap pesantren di media sosial. Di tengah derasnya arus informasi digital, citra pesantren dapat terbentuk melalui potongan video, narasi sepihak, atau informasi yang tidak disertai konteks memadai. Situasi tersebut menuntut masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima informasi, sekaligus mendorong warga pesantren untuk membangun budaya komunikasi yang bertanggung jawab.
Pembelaan terhadap pesantren, dengan demikian, tidak cukup dilakukan melalui reaksi emosional atau perdebatan di ruang digital. Pesantren perlu memperkuat kualitas pendidikan, menjaga integritas pengasuh dan santri, meningkatkan literasi digital, serta menyampaikan informasi secara terbuka dan proporsional. Santri juga perlu memiliki keberanian untuk mengoreksi informasi yang keliru dengan argumentasi yang kuat, santun, dan berbasis fakta. Sikap tersebut sejalan dengan prinsip tabayyun sekaligus mencerminkan akhlak yang menjadi fondasi pendidikan pesantren.
Pada saat yang sama, membentengi pesantren dari framing negatif tidak berarti menutup ruang evaluasi atau mengabaikan persoalan nyata. Kritik yang disampaikan berdasarkan fakta harus menjadi bahan perbaikan, sedangkan tuduhan yang tidak terverifikasi perlu disikapi dengan kehati-hatian dan klarifikasi yang bertanggung jawab. Dengan pendekatan tersebut, pesantren dapat membangun ketahanan reputasi tanpa kehilangan komitmen terhadap kejujuran, keterbukaan, dan perbaikan berkelanjutan.
Gagasan utama yang menghubungkan pemikiran Al-Ghazali, pendekatan VUCA tandingan Hamidulloh Ibda, dan tantangan pesantren di ruang digital adalah pentingnya menjadikan nilai sebagai kebiasaan nyata. Disiplin, konsistensi, ketekunan, tanggung jawab, kejujuran, kemauan belajar, pengendalian diri, kerja sama, keberanian mengambil keputusan, dan empati merupakan karakter yang perlu dibangun secara berkelanjutan. Karakter-karakter tersebut tidak hanya dibutuhkan untuk meraih keberhasilan akademik, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan, membangun hubungan sosial yang sehat, dan menghadapi kegagalan secara dewasa.
Karena itu, pendidikan karakter di pesantren perlu mengintegrasikan keteladanan kiai dan guru, pembiasaan perilaku baik, penguatan tradisi keilmuan, pengembangan kompetensi digital, serta evaluasi terhadap perilaku sehari-hari. Santri perlu memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam pembelajaran, organisasi, kehidupan asrama, interaksi sosial, dan penggunaan media digital.
Pada akhirnya, santri yang tangguh bukanlah mereka yang menolak perubahan, melainkan mereka yang mampu memahami perubahan tanpa kehilangan arah. Mereka juga bukan sekadar generasi yang menguasai banyak informasi, melainkan pribadi yang mampu memilah pengetahuan, mengendalikan diri, mempertimbangkan kemaslahatan, dan bertindak berdasarkan akhlak.
Pemikiran Imam Al-Ghazali memberikan fondasi moral bagi pembentukan karakter tersebut, sedangkan pendekatan Vision, Understanding, Clarity, dan Awareness menawarkan orientasi praktis untuk menghadapi dinamika zaman.
Dengan memadukan keduanya, pesantren memiliki peluang untuk melahirkan generasi yang tidak hanya kuat dalam ilmu dan tradisi keislaman, tetapi juga adaptif, kritis, mandiri, dan bertanggung jawab. Di tengah dunia yang semakin tidak menentu, karakter yang mengakar menjadi kompas agar santri mampu bergerak maju tanpa kehilangan identitas, serta berkontribusi bagi masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi pijakannya.
Hadir ratusan mahasiswa, Ketua BPP INISNU Temanggung Drs. H. Nur Makhsun, M.S.I., Ketua PCNU Temanggung KH. Muchamad Nurul Yaqin, S.Sos., Ketua KBIHU Babussalam NU Temanggung KH. Mustahal Nasucha, S.Sos., Direktur AKPER Alkautsar Temanggung Ratna Kurniawati, A.Md.Akup., S.Kep., Ns., M.Kep., dan segenap tamu undangan.(*)

Posting Komentar