![]() |
TEMANGGUNG, temanggungnews.com – Menghafal Al-Qur'an merupakan salah satu amalan mulia yang menjadi impian banyak umat Islam. Namun, sebelum melangkah pada proses menghafal, ada satu hal mendasar yang tidak boleh diabaikan, yaitu kemampuan membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar. Kesadaran inilah yang menjadi salah satu landasan hadirnya program Tahsin di SMP Alkautsar Temanggung.
Melalui program unggulan 3T (Tahsin, Tahfidz, dan Tadabur), SMP Alkautsar Temanggung berupaya membangun kedekatan siswa dengan Al-Qur'an secara bertahap. Tahsin ditempatkan sebagai fondasi awal sebelum siswa melangkah pada tahap menghafal (Tahfidz) dan memahami kandungan Al-Qur'an (Tadabur).
Program Tahsin sendiri memiliki fokus utama untuk memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur'an siswa. Bukan sekadar mampu melafalkan ayat demi ayat, siswa diharapkan dapat membaca Al-Qur'an sesuai kaidah yang benar, mulai dari makharijul huruf, bacaan gharib, hingga penerapan tajwid.
Untuk mencapai tujuan tersebut, SMP Alkautsar Temanggung menggunakan Metode Ummi sebagai pedoman pembelajaran. Metode ini menjadi acuan bagi para pengajar dalam membimbing siswa agar memiliki kemampuan membaca Al-Qur'an secara lebih baik dan terarah.
Semua Siswa Mendapat Kesempatan Belajar
Menariknya, program Tahsin bukan hanya diperuntukkan bagi siswa yang belum lancar membaca Al-Qur'an. Program ini wajib diikuti oleh seluruh siswa SMP Alkautsar Temanggung. Setiap siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan dan tingkat bacaan masing-masing. Dengan demikian, pembelajaran dapat disesuaikan dengan kemampuan awal siswa.
Para pengajar yang mendampingi kegiatan ini merupakan ustadz dan ustadzah yang memiliki kompetensi di bidang pembelajaran Al-Qur'an. Bahkan, terdapat tes khusus bagi calon pengajar untuk memperoleh sertifikat Ummi. Hal ini menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas pendampingan agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik.
Belajar Al-Qur'an Tidak Harus Selalu di Dalam Kelas
Suasana belajar yang nyaman menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam pelaksanaan program Tahsin. Kegiatan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga memanfaatkan berbagai area di lingkungan sekolah, seperti aula bagian depan dan belakang, halaman kelas, hingga serambi.
Pemanfaatan ruang belajar yang beragam tersebut dilakukan agar siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan nyaman. Setiap harinya, kegiatan Tahsin dilaksanakan berdasarkan jadwal yang telah disusun oleh ustadz dan ustadzah koordinator keagamaan.
Proses pembelajarannya menggunakan sistem halaqah kecil. Siswa duduk melingkar bersama guru sehingga kegiatan belajar berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil. Pola ini memberikan ruang bagi siswa untuk belajar dan mendapatkan pendampingan secara lebih dekat.
Dalam pelaksanaannya, evaluasi kemampuan siswa dilakukan setiap hari. Sementara itu, tes kenaikan jilid dilaksanakan setelah siswa menyelesaikan materi pada jilid yang sedang dipelajari. Menariknya, pengujian dilakukan oleh ustadz atau ustadzah yang bukan merupakan pengampu maupun pendamping siswa tersebut. Sistem ini menjadi bagian dari proses evaluasi kemampuan sebelum siswa melanjutkan ke tingkat berikutnya.
Tidak hanya siswa yang mendapatkan evaluasi. Para ustadz dan ustadzah juga mengikuti kegiatan microteaching serta evaluasi satu kali dalam sepekan, tepatnya setiap hari Rabu. Dengan demikian, peningkatan kualitas pembelajaran turut menjadi perhatian dalam program ini.
Membangun Kepercayaan Diri dan Semangat Belajar
Dalam proses belajar, kemampuan setiap siswa tentu tidak selalu sama. Ada yang sudah lancar membaca Al-Qur'an, tetapi ada pula yang masih harus memulai dari kemampuan dasar. Perbedaan tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam kegiatan pembelajaran.
Untuk menghadapinya, para ustadz dan ustadzah senantiasa memberikan motivasi kepada siswa agar tidak merasa minder dan tetap bersemangat dalam belajar. Siswa didorong untuk terus berproses tanpa harus merasa rendah diri ketika kemampuan membaca Al-Qur'annya belum setara dengan teman-temannya.
Dampak program ini tidak hanya terlihat dari perkembangan kemampuan membaca Al-Qur'an. Berdasarkan hasil wawancara pada Jumat (23/10/26) dengan pihak pengelola program yaitu Ibu Khisna Tanjuwina, S.Pd mengatakan bahwa, siswa juga menunjukkan perkembangan dalam hal tanggung jawab terhadap kemajuan belajar masing-masing.
Mereka mulai memiliki kesadaran untuk memperhatikan perkembangan dirinya, berusaha menyeimbangkan kemampuan dengan teman-teman lainnya, serta memiliki semangat untuk segera naik jilid. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran Tahsin juga dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan motivasi belajar.
Tahsin sebagai Fondasi Perjalanan Bersama Al-Qur'an
Program Tahsin di SMP Alkautsar Temanggung memberikan gambaran bahwa pendidikan Al-Qur'an tidak semestinya hanya berorientasi pada banyaknya hafalan yang mampu dicapai siswa. Ada proses mendasar yang perlu diperhatikan, yaitu memastikan bahwa bacaan Al-Qur'an telah dipelajari dengan baik dan benar.
Tahsin menjadi pijakan sebelum siswa memasuki tahap Tahfidz dan Tadabur. Sebab, kemampuan membaca yang benar merupakan dasar bagi proses menghafal maupun memahami Al-Qur'an.
Melalui pelaksanaan program 3T, SMP Alkautsar Temanggung berupaya menanamkan bahwa kedekatan dengan Al-Qur'an bukanlah proses yang instan. Dibutuhkan pembiasaan, pendampingan, evaluasi, serta semangat untuk terus memperbaiki diri.
Pada akhirnya, keberhasilan belajar Al-Qur'an bukan semata-mata diukur dari seberapa cepat seseorang menyelesaikan satu jilid atau seberapa banyak ayat yang berhasil dihafalkan. Lebih dari itu, terdapat proses panjang untuk membangun bacaan yang benar, rasa tanggung jawab, dan kecintaan terhadap Al-Qur'an. Dari langkah sederhana membenahi bacaan inilah, perjalanan menuju hafalan dan pemahaman Al-Qur'an dapat dimulai.




Posting Komentar