Semarang
– Tepuk tangan
meriah bergema di ruang sidang utama Gedung A Kampus Pleburan Universitas
Diponegoro, Selasa (29/7). Tepat pukul 15.00 siang, Dekan Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Diponegoro selaku Ketua Sidang mengetukkan palu tanda keputusan
akhir: Ilham Alkian, S.Si., M.Ling., dinyatakan lulus dengan predikat sangat
memuaskan. Suasana haru sekaligus bangga tampak menyelimuti ruangan, ketika
pemuda asal Kabupaten Pati itu resmi menyandang gelar doktor.
Seusai
dinyatakan lulus, Ilham menundukkan kepala, menyalami promotor, lalu memeluk
kedua orang tuanya. Air mata yang menetes di pipinya seolah menjadi jawaban
dari perjalanan panjang hamper 10 tahun menimba ilmu di kampus yang sama sejak
jenjang sarjana. “Saya lahir dari keluarga sederhana, dari tangan kasar bapak
dan doa lirih ibu yang tidak pernah putus. Gelar ini sepenuhnya untuk mereka,”
ucapnya dengan suara bergetar, membuat suasana sidang semakin haru.
Disertasi
yang dipertahankan Ilham berjudul Deteksi dan Fotodegradasi Polutan pada Air
Limbah Farmasi Menggunakan Material Karbon Dots. Tema ini lahir dari
keresahannya terhadap pencemaran antibiotik dan logam berat yang kian marak di
perairan Indonesia maupun dunia. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa polutan
dari limbah farmasi sering kali luput dari perhatian karena berbentuk
transparan, tidak berwarna, dan tetap berbahaya meski dalam kadar sangat
rendah. “Masalah ini bukan hanya isu lokal, tetapi sudah menjadi isu global.
Polutan ini tidak terlihat, namun dampaknya besar terhadap lingkungan dan
kesehatan manusia,” terang Ilham.
Yang
membuat penelitiannya unik, Ilham berhasil mengubah limbah kulit pisang kepok
menjadi material canggih bernama karbon dots. Partikel berukuran kurang dari 10
nanometer ini mampu memancarkan cahaya fluoresensi multiwarna yang sensitif
terhadap logam berat dan antibiotik. Dari sifat unik cahaya fluoresensi yang
sensitif terhadap polutan, karbon dots dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi berbagai
logam berat dan antibiotik secara cepat, mudah, dan akurat. “Dari penelitian
ini, paradigmanya bergeser. Deteksi polutan bisa dilakukan lebih sederhana,
cepat, dan portabel, tanpa instrumen laboratorium yang mahal,” jelasnya.
Tak
hanya berhenti di deteksi, Ilham juga mengembangkan metode remediasi. Ia
memodifikasi material fotokatalis dengan karbon dots sehingga mampu
memanfaatkan cahaya tampak untuk mendegradasi air limbah farmasi hingga 94
persen. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi solusi baru ketika diimplementasikan
pada tahap pengolahan tersier di instalasi pengolahan air limbah industri
farmasi, rumah sakit, maupun fasilitas kesehatan lainnya. “Keunggulannya,
material ini tidak hanya sekali pakai. Saya kembangkan dalam bentuk film
terapung yang stabil, ramah operasional, dan bisa digunakan berulang kali,”
paparnya.
Para
penguji menilai penelitian ini memberi dua kontribusi sekaligus: teknologi
deteksi cepat dan teknologi remediasi berkelanjutan. “Penelitian ini menutup
celah penting di bidang pengolahan limbah farmasi. Kebaruan dan potensi aplikasinya
sangat menarik” ujar salah satu penguji dalam sidang.
Jejak
Ilmuwan Muda
Ilham
bukan sosok baru di dunia riset. Berdasarkan data akademiknya, ia telah menerbitkan
puluhan artikel di jurnal internasional bereputasi dan memiliki H-index 10 di
Google Scholar dan 8 di Scopus. Ia juga telah tercatat sebagai inventor pada beberapa
paten sederhana di bidang nanomaterial aplikasi lingkungan dan medis. Di luar
laboratorium, Ilham aktif mengajar dan membimbing mahasiswa. Ia tercatat
sebagai analis bidang material maju di Laboratorium Terpadu Undip, sekaligus
peneliti di Smart Materials Research Center.
Lahir
di Pati pada 8 Januari 1996, Ilham menempuh seluruh pendidikan tinggi di Undip:
mulai dari S1, S2, hingga S3, dengan dukungan penuh beasiswa Bidikmisi,
Beastudi Etos, BPR Pati, dan PMDSU. “Undip adalah rumah saya. Tempat saya
dibentuk, ditempa, dan dibesarkan,” katanya.
Amanah
Baru
Meski
resmi menyandang gelar doktor, Ilham menyadari perjalanan akademiknya belum
selesai. “Gelar ini bukanlah puncak. Ini amanah untuk terus belajar, mengabdi,
dan menebar manfaat. Keberhasilan sejati tidak diukur dari apa yang tampak
gemerlap, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan,” ujarnya
dalam sambutan penutup. Dengan kelulusan ini, Universitas Diponegoro kembali
menegaskan perannya melahirkan peneliti muda yang mampu memberi jawaban konkret
bagi tantangan lingkungan. Inovasi yang lahir dari kulit pisang sederhana
menjadi bukti bahwa ilmu bisa berangkat dari hal yang dekat dengan kehidupan
sehari-hari, tetapi memberi dampak besar bagi masa depan bumi.

Posting Komentar