Pringgo, karakter ilustratif karya Lindsey Rochili Santoso, diperkenalkan sebagai figur kreatif yang menggambarkan semangat serta nilai-nilai yang dihidupi Pasar Papringan. Terinspirasi dari bambu sebagai material yang menjadi ciri khas pasar, Pringgo tampil dengan wajah ceria dan menggemaskan untuk membantu pengunjung memahami nilai-nilai Pasar Papringan dengan cara yang lebih ringan dan menyenangkan.


Didesain sebagai story companion, Pringgo berperan sebagai “teman belajar” yang mengenalkan tiga nilai Pasar Papringan yaitu, konservasi alam, pemberdayaan masyarakat, dan pola makan sehat serta alami. Dengan karakter yang hangat dan dekat dengan kehidupan warga Dusun Ngadiprono, Pringgo diharapkan dapat menjadikan nilai-nilai tersebut lebih menarik, mudah diingat, dan relevan bagi setiap pengunjung.


Memahami Tiga Pilar Nilai yang Menghidupkan Pasar Papringan dan Dusun Ngadiprono

Selama sepuluh hari berada di Dusun Ngadiprono, Lindsey Rochili Santoso, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara yang mendapat kesempatan untuk mempelajari Pasar Papringan dari dekat melakukan observasi lapangan dan berbincang langsung dengan Project Manager Pasar Papringan, Wening Lastri. Dari proses itu muncul sebuah kesadaran baru bahwa Pasar Papringan bukan sekadar pasar tradisional, melainkan ruang hidup yang berakar pada nilai-nilai yang dijaga dengan penuh konsistensi.


Salah satu nilai itu terlihat dari cara pasar ini memuliakan alam. Tata letak tanah dan rumpun bambu dibiarkan apa adanya, membuat seluruh aktivitas pasar menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Nilai berikutnya tumbuh dari pemberdayaan masyarakat, di mana warga Dusun Ngadiprono khususnya para petani dan pengrajin menjadi penggerak utama yang menghidupkan pasar lewat hasil kerja mereka. Nilai terakhir hadir melalui komitmen pada pola makan sehat dan alami, dengan penekanan pada real & gluten free food.

Dari temuan inilah tergambar bahwa Pasar Papringan bukan hanya tempat jual beli, tetapi sebuah ekosistem kearifan lokal yang berdiri dari kebiasaan baik, praktik hidup berkelanjutan, dan kedekatan masyarakat dengan alam.


Pringgo sebagai Figur Ilustratif yang Membawa Nilai Pasar Papringan Lebih Dekat ke Pengunjung

Pringgo diperkenalkan sebagai karakter ilustratif baru di Pasar Papringan, sebuah figur kreatif yang dirancang untuk membantu menyampaikan tiga nilai utama Pasar Papringan dan Dusun Ngadiprono secara lebih hangat dan mudah dipahami. Nama “Pringgo” sendiri merupakan gabungan dari “pring” dan “go”, yang menghadirkannya sebagai sahabat bambu yang siap menemani pengunjung menjelajahi Pasar Papringan.



Di balik tampilannya yang sederhana, Pringgo membawa rangkaian makna yang merefleksikan nilai-nilai yang dijaga oleh masyarakat. Tubuh bambunya menggambarkan kedekatan pasar dengan alam yang dipertahankan tanpa mengubah lanskap asli. Topi caping dan ikat pinggang anyaman mencerminkan keterampilan serta kearifan lokal warga Dusun Ngadiprono. Telinga dari daun kopi menjadi simbol hasil bumi setempat, sementara tangan dan kaki yang terinspirasidari singkong menegaskan komitmen pasar terhadap pangan alami dan bebas gluten.


Melalui kehadiran Pringgo, nilai-nilai Pasar Papringan dapat diperkenalkan secara lebih ramah, mudah dipahami, dan dekat dengan pengunjung, terutama bagi mereka yang baru pertama kali menyelami dunia kecil nan hangat di balik pasar bambu ini.


Langkah Lanjutan Pringgo untuk Mendekatkan Nilai Pasar Papringan kepada Pengunjung

Sejak diperkenalkan, Pringgo mulai menarik perhatian para pengunjung Pasar Papringan.Banyak yang berhenti sejenak hanya untuk melihat ilustrasinya, ingin tahu lebih detail tentang elemen-elemen tubuhnya yang sarat makna, atau sekadar tersenyum saat menemukan sosok bambu kecil ini di berbagai media visual pasar. 


Kehadiran Pringgo membuat interaksi pengunjung terasa lebih hangat, ia menjadi titik awal percakapan tentang nilai-nilai yang selama ini mungkin terlewat oleh pengunjung yang datang hanya untuk berwisata kuliner. Pengunjung dari berbagai usia memberikan respons positif. Beberapa anak dengan antusias menunjuk ilustrasinya, sementara pengunjung dewasa penasaran dengan filosofi di balik desain


Pringgo. “Wah, lucu banget karakter ini. Pringgo jadi wadah baru buat Pasar Papringan membuka ruang komunikasi yang lebih ramah dan menarik,” ujar salah satu pengunjung. Banyak yang menyampaikan bahwa Pringgo membuat mereka lebih ingin tahu tentang apa saja yang menjadi dasar penyelenggaraan pasar, bukan sekadar pengalaman jajan atau foto-foto.Melihat antusiasme tersebut, Pringgo diproyeksikan akan hadir secara lebih luas dalam berbagain bentuk ke depannya, mulai dari materi edukasi, cerita visual, hingga elemen interaktif yang bisa membantu pengunjung memahami konservasi alam, pemberdayaan masyarakat, serta pola makan sehat dan alami. Karakter ini diharapkan menjadi jembatan yang membuat nilai-nilai tersebut lebih mudah dicerna oleh pengunjung baru maupun pengunjung yang rutin datang.


Lindsey Rochili Santoso selaku pembuat Pringgo menyampaikan harapannya, “Semoga kehadiran Pringgo bisa membuat lebih banyak pengunjung tertarik untuk mengenal Pasar Papringan dari sisi nilainya, bukan hanya datang untuk kulineran atau berbelanja. Saya ingin Pringgo menjadi teman yang membantu pengunjung memahami cerita yang dijaga warga Ngadiprono.”Dengan langkah-langkah ini, Pringgo diharapkan tidak hanya menjadi karakter yang menghibur, tetapi juga figur ilustratif yang membawa pesan dan filosofi Pasar Papringan semakin dekat dengan setiap orang yang datang.


Karakter Pringgo sebagai Bagian dari Program Social Impact Initiative Universitas

Multimedia Nusantara dan Spedagi Movement

Karakter Pringgo lahir sebagai bagian dari Program Social Impact Initiative yang dijalankan Universitas Multimedia Nusantara bersama Spedagi Movement, komunitas penggerak Pasar Papringan. Meski baru memasuki batch kedua, program ini telah membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari kehidupan warga Dusun Ngadiprono dan memahami nilai-nilai yang menjaga Pasar Papringan tetap hidup dan relevan hingga hari ini. 


Pada batch ini, Lindsey Rochili Santoso menjadi salah satu mahasiswi UMN yang turun langsung ke lapangan. Melalui pendampingan Spedagi Movement dan interaksi sehari-hari dengan warga, Lindsey menyaksikan bagaimana nilai konservasi alam, pemberdayaan masyarakat, dan pola makan sehat dihidupkan dalam praktik nyata. Dari pengalaman tersebut, lahirlah ide untuk menghadirkan karakter Pringgo sebagai medium kreatif untuk membawa nilai-nilai Pasar Papringan lebih dekat kepada para pengunjung. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana kolaborasi antara kampus, komunitas, dan warga desa dapatmenciptakan pembelajaran yang bermakna sekaligus menghasilkan karya yang berdampak. 


Kedepannya, program ini diharapkan terus berkembang, menghadirkan lebih banyak kontribusibaik, serta membuka ruang kolaborasi baru yang semakin memperkaya ekosistem Pasar Papringan. Informasi lebih lanjut: Instagram @pasarparingan & @pringgopapringan


Penulis: Lindsey Rochili Santoso, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara yang memiliki minat kuat pada pemberdayaan komunitas dan strategi komunikasi berbasis pengalaman. 



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama